“Kritik soal laba tinggi tapi arus kas kosong itu sangat telak. Selama ini banyak yang memoles data agar terlihat kinclong, padahal secara fundamental perusahaan sedang megap-megap. Ini harus diakhiri,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kehadiran Danantara harus menjadi titik balik untuk menghentikan total budaya manipulasi laporan keuangan yang tidak sehat tersebut.

*Nasionalisme Bukan Sekadar Lencana*

Dalam pandangannya, Zulhamedi juga mengaitkan kebijakan ini dengan semangat nasionalisme yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa cinta tanah air bagi pemimpin BUMN tidak boleh hanya sebatas simbol atau lencana di dada, melainkan harus dibuktikan dengan kejujuran.

“Nasionalisme berarti menjaga aset rakyat dengan benar. Memoles laporan keuangan untuk menutupi inefisiensi bukan hanya salah secara akuntansi, tapi itu bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik,” tandasnya.

Ia mendukung penuh prinsip zero tolerance yang diusung Rosan. Bagi Projo Banten, integritas adalah harga mati jika Danantara ingin membawa BUMN naik kelas dan bersaing secara global.

*Butuh Sanksi Tegas, Bukan Sekadar Gertakan*

Meskipun mengapresiasi arahan tersebut, Projo Banten mengingatkan bahwa pernyataan keras saja tidak cukup. Diperlukan tindakan nyata berupa pengawasan super ketat dan mekanisme sanksi yang jelas.

Ada dua langkah konkret yang disarankan:

1. Audit Mendalam: Danantara perlu meninjau ulang metode akuntansi di BUMN strategis untuk memastikan tidak ada “bom waktu” yang tersembunyi.
​
2. Sanksi Berat: Bagi direksi yang terbukti melakukan kecurangan, harus langsung masuk blacklist dan diproses hukum jika merugikan negara.

“Publik menunggu bukti, jangan sampai ini hanya gertakan di awal. Jika ada yang tidak sejalan dengan semangat kejujuran dan nilai-nilai Merah Putih, memang silakan keluar. Seperti kata Pak Rosan, kita butuh orang-orang yang bersih dan berintegritas,” pungkasnya.