Mereka menilai penyebaran foto beserta narasi tersebut bukan sekadar kesalahpahaman, melainkan sudah mengarah pada fitnah dan pembunuhan karakter. Sebab, tidak pernah ada satu pun pernyataan atau tindakan mereka yang mengatasnamakan Bupati Lebak.
“Kami tidak pernah menjual seragam, tidak pernah menarik iuran, apalagi membawa nama bupati,” tegas dari salah satu ke empat wartawan tersebut.

Ia juga mengaku sempat menghubungi seorang penyedia seragam bertuliskan “Lebak Ruhay”, bernama Ibu Maya, untuk meminta klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Bahkan mereka siap mengembalikan seragam tersebut apabila dianggap menimbulkan polemik.
Namun, kerugian moral sudah telanjur terjadi. Reputasi mereka di lingkungan masyarakat tercoreng. Beberapa dari mereka bahkan merasa enggan keluar rumah karena khawatir dipandang negatif.
Keempat Wartawan tersebut kini mempertanyakan pihak yang pertama kali menyebarkan foto dan narasi tuduhan tersebut. Mereka mendesak oknum penyebar bertanggung jawab karena informasi yang beredar telah memicu keresahan di lingkungan sekolah dan merusak nama baik mereka.
“Sekali pesan berantai itu dikirim, ratusan orang langsung percaya. Padahal tidak pernah ada konfirmasi kepada kami,” ujarnya

Mereka menilai, penyebaran informasi tanpa verifikasi bukan lagi sekadar kekeliruan, melainkan tindakan yang berpotensi melanggar hukum karena mencemarkan nama baik.
Harapan Nama Baik Dipulihkan

Kini, U, D, HR, dan T hanya berharap klarifikasi mereka didengar publik. Mereka tidak menuntut simpati, hanya keadilan dan pemulihan nama baik.
Salah satu dari mereka menutup pernyataan dengan lirih: “Lebih sakit difitnah daripada dimarahi. Kami datang dengan niat baik, tapi pulang membawa tuduhan.”
Mereka berharap masyarakat lebih bijak menerima dan menyebarkan informasi serta meminta pihak yang menyebarkan foto disertai tudingan segera mengklarifikasi dan menghentikan penyebaran kabar yang dinilai tidak benar tersebut. (David/red)




