Dalam sesi pertama bertema Akar Konflik dan Perebutan Hegemoni, KH. Fathurahman Yahya menjelaskan bahwa konflik saat ini merupakan bagian dari dinamika kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca-Perang Dingin.
Ia menyebut, penyebab utama konflik dipicu oleh warisan kolonialisme seperti Perjanjian Sykes-Picot, rivalitas sektarian Sunni–Syiah, serta perebutan kontrol atas jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz. Selain itu, strategi Amerika Serikat dan Israel dinilai bertujuan mempertahankan hegemoni Barat dengan menahan kebangkitan Iran sebagai kekuatan regional.
Sementara itu, Didin Nasirudin mengulas keseimbangan kekuatan militer dan kemungkinan skenario ke depan. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel unggul dalam teknologi serangan presisi dan kemampuan dekapitasi kepemimpinan. Namun, Iran memiliki keunggulan dalam strategi perang asimetris serta jaringan proksi yang luas.
Didin memprediksi akan terjadi kesepakatan damai terbatas pada pertengahan 2026 setelah fase konfrontasi terbatas. Kesepakatan tersebut, kata dia, kemungkinan mencakup penghentian program nuklir Iran dan normalisasi hubungan regional, meski tanpa kompensasi finansial bagi Iran.
Diskusi juga menyoroti dampak konflik terhadap Indonesia, mulai dari potensi lonjakan harga BBM, tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi, hingga terganggunya rantai logistik perdagangan global.
Indonesia disarankan mengambil peran sebagai mediator melalui pendekatan bridging diplomacy, sekaligus memperkuat kemandirian di sektor pertahanan, pangan, dan energi agar tidak rentan terhadap tekanan eksternal.
Pada sesi terakhir, Henry Sianipar menyoroti perubahan wajah peperangan modern. Ia menegaskan bahwa perang kini tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang digital melalui perang narasi.
Menurutnya, penggunaan teknologi seperti AI generatif, deepfake, hingga propaganda visual menjadi senjata baru untuk membentuk opini publik global.
Henry menyebut kondisi ini sebagai “kekacauan epistemologis”, di mana masyarakat semakin sulit membedakan antara realitas dan kepalsuan karena peran algoritma yang menentukan arus informasi.
“Kita bukan menuju perang besar, melainkan sudah berada dalam era ‘perang permanen multi-dimensi’,” tegasnya.
Melalui forum ini, Universitas Sahid menegaskan pentingnya kajian komunikasi dalam memahami krisis global. Di era digital, perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di layar, platform, algoritma, dan ruang opini publik.
(Jiwa)



