1. Bukan Pejabat: Ibam hanyalah konsultan yayasan, gajinya bukan dari APBN, dan tidak memiliki wewenang pengadaan.
2. Tidak Ada Persekongkolan: Ia baru kenal Nadiem setelah jadi menteri, tidak pernah ada pertemuan pribadi atau konspirasi.
3. Masukan Netral: Chat dan notulen rapat membuktikan Ibam tidak memaksa, justru meminta dilakukan uji coba dulu. Ahli IT pun menilai masukannya profesional dan netral.
4. Keputusan Pejabat: Terbukti Pejabat Eselon I sendirilah yang menolak masukan Ibam dan mengeluarkan SK sendiri untuk memutuskan Chromebook.
5. Nama Dicatut: Nama Ibam dimasukkan ke dalam SK tanpa sepengetahuannya, dan dalam dokumen penting pun tidak ada tanda tangannya sama sekali.
Yang paling menyakitkan, terungkap bahwa belasan oknum pejabat lain mengakui menerima suap ratusan juta hingga miliaran rupiah dari vendor. Namun anehnya, mereka bebas, tidak jadi tersangka. Sementara Ibam yang tidak menerima sepeser pun justru ditahan dan dituntut berat.

“Mereka yang sebenarnya bermain uang justru lepas, suamiku yang jujur malah dipenjara. Ini jelas permainan elite yang melempar kesalahan mereka ke pundak Ibam,” tegas Ririe.
Manipulasi Data & Kriminalisasi

Dalam surat tuntutan, JPU menyatakan kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar saat menjabat. Padahal, Ibam sudah membuktikan itu adalah aset saham yang didapat jauh sebelum terlibat, hasil perjuangannya membangun bisnis, bukan uang korupsi.
Namun bukti itu ditolak mentah-mentah dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Ini puncak kezaliman. Ibam yang TIDAK PERNAH menerima uang, justru dikriminalisasi. Sementara dua terdakwa lain yang mengakui aliran dana, cuma dituntut 6 tahun. Ibam yang tidak bersalah malah dapat 22 tahun?” serunya.
Kesehatan Ibam pun kini memburuk, tabungan keluarga habis untuk biaya hukum dan pengobatan. Namun Ririe tegar, ia bersaksi bahwa suaminya adalah pejuang yang siap bangun dari nol lagi.

Hanya satu pertanyaan yang menggantung: Apa memang berbakti bagi Indonesia seberbahaya ini?
Putusan akan segera dibacakan. Ririe berharap majelis hakim bisa melihat kebenaran yang seterang itu, sebelum keadilan benar-benar mati bagi orang jujur.




