Artinya, BGN membayar jauh lebih mahal (sekitar 19%) dibanding harga beli masyarakat biasa, padahal pembelian dilakukan secara partai besar yang seharusnya mendapatkan potongan harga spesial.
Dugaan Mark Up hingga 100%
Lebih jauh, adanya indikasi kuat bahwa harga asli perangkat tersebut setelah mendapatkan dukungan khusus dari prinsipal (termasuk gratis tinta dan garansi) diperkirakan hanya berada di kisaran Rp 6 juta-an.
Jika hal ini terbukti, maka potensi keuntungan yang diambil penyedia mencapai puluhan persen, bahkan kerugian negara disinyalir bisa mencapai 100% jika dihitung dari modal sebenarnya dan restitusi pajak. Publik mencium bau busuk adanya “settingan” tender untuk memenangkan pihak-pihak tertentu.
“Ini bukan sekadar masalah printer, ini soal integritas pengelolaan uang rakyat. Mengapa harga borongan pemerintah bisa lebih mahal dari harga toko?” ungkap Mukhsin Nasir.
Daftar Pemenang Tender, Nilai Mencapai Miliaran
Pengadaan printer ini ternyata tidak hanya diberikan kepada satu vendor, melainkan terbagi ke sejumlah perusahaan dengan nilai kontrak yang terbilang fantastis:
– KATA SUHU KITA: Rp 5,95 Miliar
– ARRAHJI BUSSINESS: Rp 5,95 Miliar
– CEMERLANG DATA TEKNOLOGI: Rp 2,97 Miliar
– ALE TEKNO KOMPUTER: Rp 5,95 Miliar
– MULTI DIMENSI TEKNOLOGI: Rp 5,95 Miliar
– EUREKA INDOTAMA PERKASA: Rp 5,95 Miliar
– SAKTI KARUNIA UNITEK: Rp 5,95 Miliar
– BEOTHERSINDO SOUDARA MAS: Rp 5,95 Miliar
– MAZAYA SEJAHTERA PERDANA: Rp 5,95 Miliar
– INTISOF DATAKOM INDONESIA: Rp 2,97 Miliar
– SUMBER DIGITAL INDONESIA: Rp 5,95 Miliar
– TINGGIRINDO JAYA PERKASA: Rp 1,48 Miliar
Mahasiswa Geram, Siap Lapor Kejaksaan dan Demo
Melihat kondisi ini, elemen mahasiswa tidak tinggal diam. Serikat Mahasiswa Gerakan Indonesia Raya dan Forum Aksi Mahasiswa berencana membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Penganggaran dan belanja BGN kelewat ugal-ugalan, mulai dari hal kecil hingga peralatan. Kami berencana melaporkan dugaan kebocoran anggaran ini ke Kejaksaan Agung dan menggelar aksi demonstrasi di kantor BGN,” tegas Adiem, perwakilan mahasiswa.
Mereka menuntut dilakukan Audit Forensik dan Audit Pajak menyeluruh untuk membongkar siapa saja yang bermain di balik skandal printer ini.


