Tak hanya itu, Dinas Koperasi juga menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi SBMR bekerja sama dengan BULOG dalam pengadaan sembako. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok koperasi sekaligus memastikan harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau bagi anggota.

“Ini program baik dan harus kita dukung bersama,” tegas Hari Wuryanto.

Sementara itu, Musrianto selaku Sekretaris Jenderal Konfederasi Barisan Buruh Indonesia menegaskan bahwa arah perjuangan buruh hari ini tidak bisa hanya bergantung pada hubungan industrial formal semata. Menurutnya, forum tripartit harus dimanfaatkan sebagai ruang strategis untuk mendorong kebijakan yang benar-benar berpihak pada buruh, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi organisasi.

Ia menekankan bahwa inisiatif SBMR membangun koperasi bukan sekadar program ekonomi, tetapi bagian dari strategi besar gerakan buruh untuk keluar dari ketergantungan struktural. “Buruh tidak boleh hanya menjadi objek produksi, tetapi harus menjadi subjek ekonomi. Koperasi adalah alat perjuangan untuk merebut kembali nilai yang selama ini dihasilkan oleh kerja buruh,” ujarnya.

Musrianto juga menilai sinergi antara serikat buruh, pemerintah daerah, dan institusi seperti BULOG merupakan langkah konkret yang harus terus diperluas. Menurutnya, jika model ini berhasil, maka dapat direplikasi di daerah lain sebagai fondasi ekonomi alternatif berbasis kolektif buruh.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kesejahteraan buruh tidak cukup diukur dari kenaikan upah, tetapi juga dari kemampuan buruh mengakses kebutuhan dasar dengan harga terjangkau, memiliki usaha bersama, serta membangun kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

“Ketika buruh punya koperasi yang kuat, punya distribusi pangan sendiri, punya usaha produktif, maka posisi tawar buruh akan naik secara nyata. Di situlah kesejahteraan sejati mulai dibangun,” tegasnya.

Ketua SBMR, Aris, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa apa yang sedang dibangun hari ini adalah fondasi kemandirian buruh di tingkat daerah. Ia menyampaikan bahwa SBMR tidak ingin hanya hadir sebagai organisasi advokasi, tetapi juga sebagai organisasi yang mampu menjawab kebutuhan riil anggotanya.

“Kami ingin memastikan bahwa anggota tidak hanya kuat dalam perjuangan hak, tetapi juga kuat secara ekonomi. Koperasi ini adalah milik bersama, dikelola bersama, dan hasilnya untuk kesejahteraan bersama,” ungkap Aris.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah daerah menjadi energi baru bagi SBMR untuk mempercepat pengembangan usaha koperasi, termasuk rencana pendirian minimarket dan perluasan unit usaha lainnya. Menurutnya, kolaborasi ini harus dijaga dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan kepada anggota.

“Kami siap bekerja keras, memperbaiki manajemen, dan memastikan koperasi ini benar-benar menjadi kekuatan ekonomi buruh di Madiun. Ini bukan sekadar program, tapi gerakan,” tegasnya.

SBMR percaya, kesejahteraan buruh tidak akan datang dari janji, tetapi dari organisasi yang kuat, program yang nyata, dan keberanian membangun kemandirian ekonomi.